Rezeki itu ia bagi dengan 220 karyawan di Batam, Kepulauan Riau,
dan Pekanbaru, Riau. Suami Selvi Nurlia itu juga membagi rezeki itu dengan
sedikitnya 80 UKM yang bermitra dengan perusahaannya, CV Media Kreasi Bangsa
(MKB). Lewat perusahaan itu, Denni menjual Kek Pisang Villa di Batam dan
Viz Cake di Pekanbaru. CV MKB membuka delapan gerai di penjuru-penjuru Batam
untuk memasarkan aneka produk Kek Pisang Villa.
Sementara di Pekanbaru ada empat gerai memasarkan Viz Cake.
Selain Kek Pisang Villa dan Viz Cake, gerai-gerai itu juga menjual aneka produk
UKM mitra CV MKB. ”Saya menyiapkan perusahaan baru untuk memudahkan ekspansi
usaha,” ujar Denni. Pencapaian Denni tidak dalam semalam. Ia giat berdagang
aneka produk buatan sendiri sejak masih menjadi karyawan. Namun, hasilnya tidak
maksimal. Denni juga harus berkonsentrasi dengan pekerjaan di pabrik. Selain
itu, modalnya juga tidak banyak.
Februari 2007, ia dan istri mulai membuat bolu pisang dengan
nama Banana Cake. Selvi mengurusi produksi dan Denni memasarkan. ”Kami mencoba
berbagai resep makanan. Kebetulan istri hobi memasak. Setelah mencoba berbagai
jenis, cake pisang ini yang paling diterima pasar,” ujarnya.
Mereka memulai usaha dari rumah sederhana di kawasan Batu Aji di
pinggiran Batam. Alat produksi awalnya adalah mesin pengaduk kecil, kompor
minyak tanah, dan oven kecil. ”Kami memulai dengan 2 kilogram pisang sehari.
Rata-rata dibuat 40 kotak kue sehari karena kapasitas produksi terbatas,” tutur
alumnus Universitas Andalas, Padang, itu.
Sebagian kue itu dipasarkan dalam bentuk potongan ke
warung-warung. Sebagian lagi dipasarkan dalam bentuk utuh dari pintu ke pintu.
”Saya memasarkan ke tetangga, kenalan, atau kantor. Saya membuat brosur yang
dibagikan di pabrik-pabrik,” ujarnya.
Hampir lima bulan Denni melakukan pola itu. Selama proses itu,
ia melihat banyak wisatawan datang ke Batam, baik transit maupun berwisata di
Batam. Namun, Batam belum punya oleh-oleh khas. ”Kota lain punya makanan khas
sebagai oleh-oleh. Yogya punya bakpia, Bandung dengan brownies,” ujarnya.
Juli 2007, Deni membuat keputusan, mengubah nama produk dan
meminjam uang untuk tambah modal. ”Kami mulai pakai nama Kek Pisang Villa. Saya
ambil pinjaman tanpa agunan Rp 40 juta. Sebagian untuk sewa ruko, sisanya untuk
beli oven lebih besar, tambah kapasitas produksi,” ujarnya.
Ruko itu berada di bagian depan kompleks tempat Denni tinggal. Lantai satu dijadikan toko
dan lantai dua dijadikan pabrik. Di lokasi baru, kapasitas produksi naik jadi
100 kotak per hari. ”Waktu itu, usaha mulai lebih lancar dan kami meningkatkan
promosi untuk menjadikan produk sebagai oleh-oleh khas Batam. Pinjaman pertama
saya lunasi dalam delapan bulan,” tuturnya.
Namun, usaha Denni tetap ditentang orangtuanya. Ia dan
istrinya memang berasal dari keluarga tanpa dasar wirausaha. ”Saya masih
disuruh mendaftar ke salah satu BUMN saat omzet sudah Rp 70 juta per bulan.
Namun, saya teruskan jadi wirausaha,” katanya.
Tambah kapasitas
Juni 2008, Denni mendapat kredit usaha rakyat Rp 500 juta.
Pinjaman tanpa agunan tersebut memungkinkan ia mengembangkan sayap. Ia menambah
dua gerai di pusat kota dan satu lagi di kawasan pinggiran. Pabrik dipindahkan
dari kawasan Batu Aji ke gerai baru di Batam Center. Pabrik itu memasok produk
untuk gerai di Batu Aji, Penuin, Tiban, Nagoya, dan Bandara Hang Nadim.
Produknya makin dikenal dan jadi oleh-oleh utama di Batam.
Wisatawan asing dan domestik kerap membawa Kek Pisang Villa sebagai oleh-oleh.
Peserta acara-acara di Batam kerap membawa berkardus-kardus Kek Pisang Villa
saat meninggalkan Batam.
Terkadang panitia membantu. Kerap pula peserta memburu sendiri
di sejumlah gerai CV MKB. Denni juga mengirimkan tim penjual ke lokasi acara.
Cara penjualan jemput bola itu dipertahankan sampai sekarang.
Dengan berbagai kombinasi pemasaran dan penjualan itu, sekarang
rata-rata terjual 2.500 kotak per hari pada hari biasa. Pada musim liburan,
gerai-gerai Denni bisa menjual hingga 3.500 kotak kue per hari. Dengan harga
minimal Rp 35.000 per kotak, Denni meraup Rp 87,5 juta per hari dari penjualan
kue saja, belum dari penjualan aneka produk UKM mitra CV MKB. ”Sekarang kami
tidak beli pisang di pasar. Kami ambil pisang dari Medan, Sumatera Utara. Saya
tidak ingat berapa ton per bulan,” tuturnya.
Pundinya tidak hanya terisi dari gerai di Batam. Tahun lalu,
Denni melebarkan sayap ke Pekanbaru. Di sana, ia mengolah durian menjadi aneka
jenis kue dengan merek Viz Cake. ”Durian bisa didapat kapan saja. Namun, belum
ada produk olahan berupa kue durian. Saya masuk di celah itu,” ujarnya. Dalam
setahun, Viz Cake berkembang pesat. Kini, empat gerai dibuka di Pekanbaru
dengan penjualan harian rata-rata 500 kotak.
Kini, Denni tidak lagi mengurus sendiri usahanya. Operasi
sehari-hari diserahkan kepada profesional. Ia berkonsentrasi pada strategi
pengembangan. Meski sudah sukses, Denni tetap sederhana. Jika ke kantor, ia
kerap hanya menggenakan kaus, celana jeans, dan sandal. Sepintas ia tak
terlihat sebagai pengusaha muda dengan omzet rata-rata Rp 3 miliar per bulan
Source : kisahsukses.info

0 komentar